Oleh: Hernina
Anissa menghentikan langkah. Di ujung jalan Bali, dekat mesjid raya terbesar di kalimantan Selatan, Sabilal Muhtadin, bangunan mungil itu ditemukannya. Berdinding bata merah dengan etalase kaca berbingkai kayu jati. Lapis kacanya nampak muram, kumuh berdebu. Sungguh bangunan yang tampak kesepian. Dari balik pintunya yang tertutup rapat, menandakan tak ada keping kehidupan di dalamnya.
Anissa menghela nafas. Tentu saja pintu itu tertutup rapat. Bahkan, terkunci, gumam benaknya kemudian. Karena kunci pembuka pintu itu sekarang berada dalam genggamannya. Beberapa hari yang lalu seorang sahabat memberikan kunci itu padanya dan berkata, “Tak ada lagi yang bisa ku lakukan disini. Pencarianku sudah selesai. Kuserahkan toko ini padamu. Terserah akan kau pergunakan sebagai apa.”
Anissa mengerjapkan mata. Masih tersisa masa sewa dua tahun sebelum toko itu harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dan sahabatnya berharap dia bisa melakukan sesuatu di toko kecil tersebut sebelum masa sewanya habis. Tapi, melakukan apa? Anissa angkat bahu. Entahlah.
Lalu tangannya terulur memasukkan kunci pada lubangnya. Memutarnya dua kali dan pintu itu pun terbuka. Taburan debu halus terhampar di segala sudut. Anissa memalingkan wajah, menghindarkan diri dari kepulan debu yang menyesakkan nafas. Sesaat kemudian Anissa tahu apa yang harus dilakukannya. Membersihkannya.
Usai membersihkan toko kecil itu dalam beberapa hari, Anissa menemukan langkah selanjutnya. Memberi sentuhan kehidupan.
Ketika lantai ubin itu tak lagi tertabur debu dan pelataran tak lagi berserak sampah, dan jendela kaca menembuskan kebeningannya, serta lampu gantung yang sengaja dipasang di langit-langit ruang mulai memantulkan cahayanya, maka tampaklah bahwa toko kecil nan mungil itu telah siap mengalirkan sebuah kehidupan baru di antara keramaian kota Banjarmasin.


saprudi berkata,
Desember 7, 2009 @ 10:17 pm
gueee bangetttt.
cerita yg bertabur nasihat,
patut diapresiasikan.
qm berhasil menghidupkan tokohnya walaupun hanya dua org
yg ada dipertannyaan q, dr 1 juta turis yg ada d indonesia ini mungkin hanya 1 org yg seperti bule itu ato bahkan tdk ada,
kritikan q, terus menulis,menulis n menulis
herninapbsid berkata,
Desember 8, 2009 @ 2:10 am
baiklah terima kasih…
ini lah cerpen pertama yang berhasil ku buat dengan kepercayaan diri yg penuh coz km tau kyapa trauma nya aku bikin cerpen..
hehehehe
thanks buuuuuuuuuuu